Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2011

Kejadian 50:15-21


KHOTBAH KEBAKTIAN MALAM LPP
Kejadian 50 : 15 – 21
01 Oktober 2011


DENDAM DAN KASIH
Pendahuluan
            Memaafkan jauh lebih susah dilakukan dibandingkan dengan menahan amarah, dendam, atau bahkan marah. Setiap kali manusia apabila dia dendam, ia selalu mengatakaan, kita ini manusia, masih tinggal di dunia. Sehingga, dendam menjadi sesuatu yang disahkan dan dapat ditolerir, atau bahkan seolah-olah Allah memaklumi manusia untuk dendam. Sekarang, apakah dendam? Dendam merupakan suatu perasaan yang lahir daripada perasaan benci atau marah, seringkali dipendam secara rahasia oleh seseorang individu. Dendam juga boleh lahir daripada hasrat dengki atau ketidakpuasan hati. Dan itu semua karena ada penyebabnya. Sehingga, semakin banyak menyimpan perasaan tersebut, maka semakin besarlah keinginan untuk membalaskan dendam dan atau bahkan ingin membalaskan kejahatan tersebut lebih dari yang terjadi padanya.
            Dalam teks khotbah saat ini, tampak sikap paradoks dari sikap penjelasan di atas. Kita tentu telah mengetahui apa dan bagaimana kehidupan Yusuf sebelum ia dijual ke Mesir oleh saudara-saudaranya. Kejahatan yang terjadi padanya, itu karena ada ketidaksenangan saudara-saudara terhadap Yusuf. Setelah Yusuf dijual, kehidupan Yusuf sangat berbeda secara fisik dibandingkan sebelum ia dijual, namun, sikap untuk mengasihi tidak hilang.

Penjelasan nas
            Ayat 15, tampak bagaimana ketakutan saudara-saudara Yusuf terhadap Yusuf. Ketakutan ini muncul karena adanya kejahatan yang mereka lakukan kepada Yusuf. Bagi sistem sosial yang terjadi pada konteks nas ini, seseorang itu memiliki hak untuk membalaskan kejahatan terhadap orang-orang yang melakukan kejahatan terhadapnya bahkan melebihi dari kejahatan yang diterimanya. Orang yang ditakuti adalah orang yang memiliki pengaruh atau kuasa yang tinggi terhadap kepentingannya. Dalam hal ini, Yusuf memiliki kuasa atau pengaruh yang besar dalam kehidupan saudara-saudaranya, dan kelangsungan hidup saudara-saudaranya berada di tangannya. Yusuf bisa saja membalaskan kejahatan saudara-saudaranya, apalagi setelah Yakub meninggal. Tetapi, perlu diperhatikan sikap Yusuf dalam teks ini.
            Ayat 16-17, saudara-saudara Yusuf yang tidak berani menjumpainya karena ketakutan tersebut. Dalam hal ini, saudara-saudaranya menyampaikan pesan Yakub sebelum ia meninggal, yaitu mengampuni (memaafkan). Mengampuni berarti memberi kesempatan, memulihkan, dn membebaskan. Itulah yang dipesankan oleh si Yakub, dimana Yusuf memberi kesempatan kepada saudara-saudara, serta memulihkan ketakutan dan hubungan bersaudara, serta Yusuf membebaskan saudara-saudaranya dari ketakutan yang mereka.
            Ayat 18, merupakan sikap yang baik dalam menunjukkan rasa penyesalan. Tunduk dapat menunjukkan hormat dan merendahkan diri, serta siap untuk menerima keputusan apakah diampuni atau tidak. Kemudian saudara-saudara Yusuf ini siap untuk menjadi budak, artinya siap untuk berada di posisi yang paling rendah dan tidak berarti. Hal ini merupakan faktor ketakutan saudara-saudara Yusuf. Ketakutan yang mereka ialah apabila Yusuf dendam, maka rusaklah hubungan mereka sebagai saudara, mereka takut kalau Yusuf menyuruh mereka pulang ke Kanaan sehingga saudaranya pun akan mati kelaparan, dimana ketika itu, terjadi kelaparan hebat di negeri Kanaan. Sehingga, dari pada mereka disuruh pulang, mereka siap untuk menjadi budak Yusuf, karena adanya jaminan mereka dapat makan.
            Ayat 19-21, sikap yang paradoks dengan apa yang ditakutkan oleh saudara Yusuf. Adanya pengampunan, dan pengampunan itu diakhiri dengan janji memberi kehidupan kepada mereka dan keturunan mereka. Rencana Allah bukanlah rencana manusia. Yusuf bisa saja membalaskan kejahatan saudara-saudaranya itu dengan menyuruh mereka pulang atau jadi budak, tetapi Yusuf mengaku bahwa ia bukanlah pengganti Allah yang menghukum saudara-saudaranya. Dan ia mengaku bahwa dibalik penderitaan yang Yusuf hadapi kejahatan saudara-saudaranya, ada rencana Allah yang indah. Rencana itu akan ia peroleh karena buah kesetiaannya pada Allah. Serta janji yang diberikan Yusuf merupakan janji yang memberi kehidupan, bukan hanya kepada saudara-saudaranya, tetapi juga kepada keturunan mereka. Dalam hal ini, tampaklah bahwa seorang yang takut pada Allah, maka ia tidak hanya mengampuni orang lain, tetapi juga janji kehidupan kepada orang yang telah melakukan kejahatan kepada kita.

Refleksi
            Teks ini mengajarkan kita dalam hal mengampuni.            
Agar kita dapat mudah mengampuni orang lain, maka ada langkah-langkah yang harus kita ambil pada saat kita akan mengampuni orang lain. Langkah-langkah tersebut antara lain:
1.       Menyadari bahwa pengampunan merupakan sebuah pilihan. Mengampuni adalah sebuah pilihan. Dan ini adalah pilihan yang mendewasakan pribadi yang memberi pengampunan dan memberi kesempatan yang diampuni untuk berubah.
2.       Menyadari bahwa mengampuni adalah syarat agar kita diampuni oleh Bapa (Matius 18 : 23 - 25). Alkitab tegaskan mengampuni orang lain berarti kita menghargai pengampunan yang Tuhan berikan.
3.       Menyadari bahwa kita sudah menerima kelimpahan ampunan dari Bapa (Matius 5 : 8, Kolose 3 : 13). Setiap saat manusia dapat berbuat kesalahan dan merugikan orang lain dan pada saat kita memita pengampunan dari Bapa di Sorga dengan sungguh, disaat itulah Bapa disorga mengampuni kita. Dan melalui pengorbanan-Nya di salib menjadi bukti bahwa kita menerima kelimpahan  ampunan. 
4.       Menyadari bahwa orang yang melukai anda mempunyai kebutuhan yang lebih besar lagi untuk mendapat kasih dan pengampunan dari Allah. Ini adalah suatu sikap yang dewasa ketika kita sadar bahwa orang yang melukai kita adalah pribadi yang benar-benar memerlukan kasih dan pengampunan dari Bapa di Sorga.
5.       Mengucap syukur atas berkat yang pernah diterima melalui orang yang telah melukai hati anda (2 Korintus 7 : 15). Dengan mengucap syukur Tuhan memberikan kekuatan bagi pribadi yang memberikan pengampunan
6.       Meminta kepada Tuhan untuk membuka kesempatan bagi kita agar dapat menyatakan kasih kita kepada orang tersebut (1 Petrus 4 : 8). Kasih adalah dasar dari pengampunan kita. Tuhan akan memberi kemampuan kepada kita untuk kita menyatakan kasih kepada mereka yang kita beri pengampunan.
7.       Berdoa bagi orang itu (Matius 5 : 44). Bukan suatu hal yang mudah, tetapi Yesus sendiri mengatakan untuk mencintai musuh-musuh kita dan mendoakan orang yang menganiayai kita....sanggupkah kita..? SANGGUP..! Mampukah kita..? MAMPU..! Kalau Yesus katakan, Yesus pula yang memberikan kesanggupan dan kemampuan  kepada kita untuk melakukannya. Amin

Pinatomutomu ni : CPdt. Daniel Bonardo Pane, S.Th.

Selasa, 11 Oktober 2011

Yosua 14:7-11


KHOTBAH KEBAKTIAN MALAM
LATIHAN PERSIAPAN PELAYAN HKI
Yosua 14:7-11,          07 Oktober 2011

Cln. Pdt. Beresman Nahampun, S.Th


Pendahuluan
Suadara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus...
Kita telah melalui LPP ini dengan baik, walau menguras tenaga dan pikiran yang terhitung 2 Minggu lamanya. Respon atas pembekalan ini, ada saja merasa capek, lelah, kurang bermanfaat, merepotkan, merasa tertekan dll. Di pihak lain, ada yang menganggap, ini adalah tempat menggali pemahaman yang benar tentang ajaran HKI, bekal untuk memperlengkapi dalam pelayanan, peluang pengembangan dirinya, dll.
Kedua sikap ini dapat kita golongkan dalam bentuk, yakni berpikir negatif dan berpikir posit pada satu objek yang sama yakni pembekalan LPP. Pola pikir negatif mewakili karakterpesimis dan pola pikir positi menimbulkan sikap optimis.
            Setiap yang berpikir negatif atau pesimis dia telah mengurangi peluang atau membatasi dirinya tentang apa yang seharusnyua dapat dia raih. Sedengakan orang yang berpikir positif atau optimis adalah telah dan menang satu langkah dalam meraih yang bernilai atau berarti bagi dirinya. Orang yang optimis selalu mengharapkan dan dapat mewujudkan yang terbaik bagi dirinya. Orang ini akan selalu mau bekerja keras karena ada harapan atau visi yang akan dia dapatkan.

Saudara-saudara...
            Hal ini dapat kita gambarkan melalui cerita singkat tentang dua orang marketing suatu perusahaan garmen atau pakaian. Perusahaan garmen tersebut mengutus dua orang marketing handalnya kesuatu daerah tertinggal misalnya ke Pelosok Jaya Pura. Ketika kedua orang tersebut berangkat, melihat dan menjelejahi daerah tersebut, lalu mereka pulang dan mempresentasikannya kepada pimpinannya. Apa yang terjadi saudara-saudara...

Pertama :   Marketing yang pertama mengatakan “disana tidak ada peluang penjualan produk kita karena mereka belum berpakaian atau tidak membutuhkan pakaian.

Kedua :       Marketing yang kedua mengtakan : “disana sangat besar peluang penjualan karena mereka sangat membutuhkan pakaian karena mereka belum berpakaian”.

Mereka memandang objek yang sama, pada waktu yang bersamaan, alat ukur yang sama tetapi melahirkan hasil yang berbeda. Melahirkan respon yang berbeda pula. Satu orang menganggap pekerjaan yang merugikan dan siasia. Sedangkan satu lagi menganggap suatu peluang untuk dapat lebih maju dan berkembang bagi perusahaannya.
Demikian halnya kita memandang pembekalan secara positif atau negatif. Ada di antara kita yang pesimis bahwa pembekalan hanya rutinitas saja. Ada juga yang berharap lewat pembekalan ini sebagai peluang memperlengkapi diri untuk dapat menjadi pelayan-pelayan yang handal.


Penjelasan Nats
Namun untuk lebih jelas, mari kita melihat pesan Alkitab yang tertuang dalam perikop kita hari ini.
Kalau kita baca ayat yang ke 10-11
10. Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini;
11. pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.

Kaleb mengatakan : “saat ini aku telah berumur 85 Tahun dan masih sama kuatnya ketika aku berumur 40 Tahun”. Suatu keheranan, benarkah Kaleb pada usia 85 tahun sama kuatnya saat umur 40 Tahun ? Mari kita lihat Kaleb pada usia 40 Tahun. Mari kita perhatikan apa yang terjadi pada Bilangan 13 dan 14.
Disana di gambarkan...Ketika Musa mengutus 12 orang pengintai untuk mengintai Tanah Kanaan sebagaimana Tanah/atau negeri yang dijanjikan Tuhan kepada bangsa Israel. Ke 12 orang berangkat untuk mengamat-amati, keadaan negeri itu, apakah yang mendiaminya kuat atau lemah, apakah mereka sedikit atau banyak, apakah keadaan negeri itu baik atau buruk, dll. Mereka mengintai negeri itu lebih dari 40 hari lamanya. Dari ke 12 orang itu terdapat Yosua dan Kaleb. Lalu ke 10 orang lain, selain Yosua dan Kaleb menceritakan apa yang mereka lihat tentang gambaran negeri itu.
Ke 10 orang itu menceritakan bahwa , negeri tersebut  “memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya” . Hanya saja, mereka adalah bangsa-bangsa yang kuat dan berkubu-kubu. Karena perkataan ini, bangsa Israael itu gusar, ribut, ketakutan dan penuh penyesalan untuk mendengar dan mengikuti Perintah Tuhan keluar dari Mesar.
Kemudia Keleb menentramkan hati mereka, dan berkata, : “Tidak! Kita akan maju menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya”. Bangsa itu bukan malah tentram, justru marah dan hendak melempari Yosua dan Kaleb degan batu, serta berkata. Mereka adalah bangsa yang tinggi-tinggi, orangnya seperti raksasa, kami seperti belalang di hadapan mereka.
Kemudian Yosua dan Kaleb berkata (Bil. 14:8), “Jika Tuhan berkehendak kepada kita, maka Tuhan akan membawa dan memberikan negeri itu kepada kita”. Hanya, janganlah memberontak kepada Tuhan, dan jangan takut kepada bangsa itu, sebab mereka akan kita telan habis”. Dalam bahasa Batak dikatakan, “
Alai na so tupa manggunturi hamu dompak Jahowa, jala ndang jadi hamu tahuton mida bangso isi ni luat i, ai hira sagusagu do nasida sohalanta.
Saudara-saudara sekalian, dari pemaparan nats ini dapat kita lihat bahwa:
1.    Yang membuat Kaleb dapat berkata, bahwa kekuatannya sama dengan pada usia 40 Tahun adalah karena dia tunduk dan tidak memberontak kepada Tuhan.
2.    Kaleb percaya bila Tuhan berkehendak, apapun yang akan diberikan dan yang dijanjikan akan nyata.
3.    Kaleb berpikir posit tentang apa yang dia lihat. Kaleb berpikir optimis  tentang apa yang akan dia hadapi, karena Tuhanlah yang berperang kepada mereka.
4.    Bagi kaleb, bahwa bangsa tersebut akan dapat ditelan. Dalam bahsa Batak tadi dikatakan, “ai hira sagusagu do nasida sohalanta”.

Refleksi
1.    Tidak ada sesuatu apapun yang dapat mematahkan semangat kita dalam melayani jika kita mau berpikir Posotif dan bertindak Optimis. Sebab bila Tuhan bekehendak, jangankan kelulusan saudara-saudara untuk dapat menjadi pelayan-pelayan Tuhan, jauh lebih berat dan menggetarkan kita akan diperlengkapi dan dimenangkan, bila kita mau tunduk dan tidak memberontak kepadaNYa.
2.    Tantangan yang akan kita hadapi tidak akan berarti apa-apa, bahkan “songon
sagu-sagu do i sohalonta”. Kesulitan-kesulitan karena kelemahan kita, itu akan seperti roti yang akan kita telan yang akan mengenyangkan dan menambah asupan gizi dalam tubuh.Artinya, kesulitas tersebut, akan memberikan peluang kepada kita untuk lebih dewasa dan lebih matang, sebab Tuhan lebih dahulu berperang bagi kita.
3.    Tuhan Allah melalui Yesus Kristus memperlengkapi serta mengutus murid-muridNya untuk memberitakan Firman Allah. Memberitakan sukacita serta damai sejahtera bagi umat Tuhan. Proses dan peristiwa ini adalah optimisme atau yang kita sebut sebagai pengharapan murid-murid Yesus. Amin


Lukas 5:17-19


Bahan Khotbah untuk Pembekalan dan Ujian Calon Pendeta
Pada Ibadah Kebaktian Pagi, 06 Oktober 2011
    by. Cln. Pdt. Ramayanti Simorangkir, S.Th          

Iman Dan Perbuatan Baik
I.                   Nats Lukas 5: 17-19
Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit.
Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus.
 Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus.

II.                Uraian Nats
Bila kita memperhatikan nats ini, di sini dijelaskan bahwa Yesus sedang mengajar orang banyak, dan pada sat itu juga terdapat ahli Taurat dan orang Farisi, juga hadir masyarakat awam yaitu mereka yang datang dari Galilea, Yudea dan dari Yerusalem, semua yang hadir di sini berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda.
Pada saat Yesus sedang mengajar, tiba-tiba datang beberapa orang mengusung seorang yang lumpuh di atas tempat tidur dan mereka berusaha meletakkannya di hadapan Yesus. Usaha yang dilakukan adalah mereka naik ke atap rumah, lalu membongkar atap itu dan menurunkan orang tersebut dengan tempat tidurnya, ada beberapa pesan teologis yang hendak disampaikan yakni:
1.      Orang lumpuh tersebut tidak memiliki kekuatan untuk datang kepada Yesus, karena dia lumpuh. dengan usahanya sendiri dia tidak akan sanggup sampai di hadapanNya. Dia membutuhkan orang-orang yang bersedia menolongnya. Jika kita kaitkan pada kehidupan kita, Siapakah orang lumpuh itu? Bisa jadi itu adalah orang-orang disekitar kita, yang membutuhkan pertolongan, uluran tangan, motivasi untuk datang kepada Yesus. Bisa jadi juga orang lumpuh itu ternyata adalah kita sendiri yang mmbutuhkan pertolongan dan motivasi dari orang lain. Buka matamu, jangan-jangan ada orang lumpuh disekeliling kita yang membutuhkan uluran tangan, mari bawa dia datang pada Yesus, karna hanya dalam Yesus ada kesembuhan, yang lumpuh bisa berjalan.
2.      Dalam nats ini juga kita melihat ada beberapa orang yang mengusung orang lumpuh tersebut dan ada usaha serta kerja keras yang dilakukan. Dan menarik di ayat 20 dengan tegas dikatakan “ketika Yesus melihat iman mereka” Yesus melihat iman mereka, iman dari orang yang mengusung orang lumpuh tadi.  Ternyata orang yang mengusung orang lumpuh tersebut, adalah orang yang beriman, yang percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan orang lumpuh yang mereka bawa. Orang yang beriman pasti memiliki hati untuk mau menolong orang lain, orang yang beriman akan tergerak hatinya untuk membawa orang yang dalam pergumulan, bahkan dalam kelumpuhannya, mereka yang tidak sanggup berjalan untuk berjumpa dengan Yesus, dan dalam perjumpaan tersebut segala penghambat, baik itu berupa atap atau hal-hal lain yang menghalangi akan dibongkar dengan sendirinya. Sekalipun ada kendala tetap ada upaya yakni mengusung, menurunkan dari atap sekalipun beserta dengan tempat tidurnya untuk berjumpa dengan Yesus. Tantangan yang ada tidak menghalangi orang yang beriman untuk menolong sesamanya.
3.      Iman yang seperti ini ternyata lahir dari pendengaran, mendengar berita bahwa Yesus sanggup menyembuhkan. Mendengar dan percaya, imannya digerakkan oleh Roh Kudus walaupun itu hanya mendengar saja pemberitaan tentang Yesus dari orang lain.
4.      Jika kita baca ayat 20, setelah Yesus melihat iman mereka. Disini Yesus bukan melihat penderitaan, bukan melihat tangisan tetapi melihat iman. ternyata percuma anda menangis karena beratnya pergumulan, jika anda tidak memiliki iman. percuma ternyata segala penderitaan yang kita hadapi jikalau pada akhirnya kita tidak memiliki iman. jika memiliki iman yang datang dari Tuhan maka apapun yang kita hadapi akan mendapat perhatian Yesus, akan mendapat kesembuhan. Imanmu menyelamatkan engkau
5.      Ternyata disini juga hadir para Farisi dan Ahli taurat, yakni para cendikiawan dan rohaniawan tapi ternyata tidak berbuat apa-apa. Seorang yang pintar, yang memiliki kemampuan secara akademis tapi karena tidak memiliki iman maka tidak akan dapat melihat karya Allah, tidak memperoleh penyembuhan, tidak aka nada pertobatan sebab pertobatan itu lahir dari iman dan perbuatan baik itu adalah buah dari iman.

Refleksi:
1.      Kita sebagai gembala yang sudah diberi charisma dan dianugrahkan keselamatan dan iman dapat menjadi berkat bagi orang lain, sehingga mereka yang hidup dalam pergumulan, dalam kelumpuhan akan bertemu dengan Yesus dan memperoleh hidup yang baru
2.      Sebagai gembala kita harus membawa jemaat untuk bertemu dengan Yesus
3.      Segala sesuatu yang menjadi tantangan, hambatan, kelemahan akan mampu disingkirkan dengan sendirinya. Kita hadapi dan kita bongkar untuk dapat bertemu dengan Yesus di dalam pelayanan sebab kita telah dianugrahi iman. iman itu menghasilkan perbuatan baik.

Apa jadinya aku tanpa Tuhan?
Tanpa Tuhan aku hanya melihat tembok, namun bersama Tuhan aku melihat fajar baru..
Aku melihat pengharapan